Kompas, 4 Agustus 2010 | 03:03 WIB
Jakarta, Kompas - Situasi pangan global hingga satu dekade ke depan penuh ketidakpastian. Penyebab utama kondisi ini adalah ketidakpastian permintaan biofuel, tarikan perdagangan komoditas berjangka, perubahan iklim global, dan sikap hati-hati negara-negara di dunia pascakrisis pangan.
Hal ini terungkap dalam lokakarya ”Ketahanan Pangan yang Efisien dan Berkelanjutan: Arah Masa Depan untuk Indonesia”, Selasa (3/8) di Bogor, Jawa Barat, yang diadakan Bank Dunia dan Kementerian Pertanian.
Pembicara lokakarya itu adalah Penasihat Strategi dan Kebijakan untuk Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Bank Dunia Christopher Delgado; Ekonom Senior Development Prospects Group Bank Dunia John Baffes; Konsultan Bank Dunia Wayan R Susila; peneliti senior Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional, Shahidur Rashid; dan peneliti pada Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian, Pantjar Simatupang.
Menurut Delgado, pada 2001- 2009 terjadi perubahan arus pangan di pasar global. Tingkat stok padi-padian dan serealia menurun daripada tahun 2000 sehingga pasar rentan guncangan.
Sementara kelebihan likuiditas cenderung mencari diversifikasi dari aset keuangan ke komoditas, termasuk padi-padian. Di sisi lain, konsumsi jagung juga meningkat karena berkembangnya kebutuhan terhadap biofuel.
Pilihan menjadikan komoditas sebagai instrumen investasi meningkat drastis. Hanya dalam kurun 2003-2008 investasi pada dana indeks terkait komoditas tumbuh 20 kali lipat, yakni dari 13 miliar dollar AS menjadi 260 miliar dollar AS.
Dari sisi produksi, kata Delgado, pertumbuhan produksi padi-padian hanya 3 persen per tahun. Lima tanaman pangan utama Afrika tahun 2050 ditengarai yang 95 persen produksinya bakal turun lebih dari 7 persen. Adapun 5 persen tanaman pangan lainnya turun hingga 27 persen.
Kendala yang bakal dihadapi pada masa datang adalah kelangkaan air serta terbatasnya lahan pertanian, kecuali di beberapa tempat di Afrika dan Asia Tengah.
Menurut Delgado, ada beberapa cara meredam dampak ketidakpastian pangan. Pertama, bila terjadi gejolak harga pangan, yang menjadi prioritas untuk diselamatkan adalah rakyat miskin dan daerah yang secara politis bisa menimbulkan gejolak politik.
Bantuan, kata Wayan, bisa diberikan berupa uang tunai yang tepat sasaran atau dalam bentuk pangan. ”Jangan ambil kebijakan yang mengarah pada pengeluaran fiskal yang besar hingga triliunan karena menyulitkan dan bisa jadi kontroversial,” ujarnya.
Namun, dalam jangka menengah dan panjang perlu menjaga pasokan komoditas pangan yang lebih elastis. ”Pasokan harus elastis. Bila harga naik, pasokan harus cepat dinaikkan. Harus cepat merespons keadaan,” katanya.
Ada tiga cara membuat pasokan pangan elastis, yakni meningkatkan produksi, menambah pasokan melalui impor, dan penguatan stok. Pemerintah diingatkan tak meredam gejolak pangan dengan cara ad hoc. ”Kalau langkah penanggulangan itu efektif, bisa dibuat prosedur operasional yang baku,” ujarnya.
Menurut Pantjar, pendekatan hak atas pangan belum efektif dilaksanakan. Belum ada tanggung jawab dari pemerintah daerah.
Potensi modal sosial lokal belum termanfaatkan, bahkan kebijakan yang ada cenderung mematikan lembaga ketahanan pangan komunitas tradisi.
Di sela diskusi, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kemtan Achmad Suryana mengatakan, produksi pangan berbasis sumber daya lokal Indonesia melimpah. ”Kalau itu dimanfaatkan, tidak akan terjadi kerawanan pangan,” katanya. (MAS)
Rabu, 04 Agustus 2010
Selasa, 03 Agustus 2010
Panen "Sepeda Motor" di Lahan Pasir
KOMPAS, 2 Agustus 2010
Panen raya cabai merah keriting di pesisir selatan Kulon Progo, DI Yogyakarta, tidak hanya diramaikan petani. Di lahan pasir besi yang ditumbuhi rimbunnya tanaman cabai siap panen itu aneka spanduk dan poster barang dagangan dipasang, ikut meramaikan suasana.
Selasa (27/7) siang itu, arena tasyakuran panen raya cabai di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, seperti berubah jadi semacam arena festival atau pameran aneka produk barang dagangan. Spanduk dan poster dipasang mencolok di sekeliling ladang cabai, tempat acara tasyakuran.
Tidak hanya menawarkan benih cabai, pestisida, fungisida, dan insektisida, spanduk-spanduk itu juga—yang lebih menohok mata—menawarkan sepeda motor. Panen raya cabai kali ini juga mengundang pedagang makanan dan minuman untuk ikut meraup rezeki.
Spanduk dan poster promosi itu datang karena kemakmuran petani lahan pasir besi. Sejak 1990-an, pertanian cabai merah keriting di atas lahan pasir membawa berkah bagi petani. Tanpa bantuan pemerintah, perekonomian menggeliat dan kesejahteraan keluarga meningkat.
Kini, saat harga cabai merah keriting melonjak hingga Rp 33.000 per kilogram di tingkat petani, mereka pun jadi ”pasar”. Produsen dan pedagang gencar menawarkan beragam produk kepada petani cabai yang tengah kebanjiran rezeki tersebut.
Menurut Sukarman, Ketua Kelompok Tani Grisik Pranaji di Desa Bugel, sejak beberapa tahun terakhir pedagang menawarkan barang dagangan mereka di ladang. ”Ada yang beli sepeda motor di ladang. Motor yang dibeli bahkan langsung diantar ke ladang,” katanya.
Selain tempat memasang spanduk dan poster promosi, acara panen raya itu juga jadi ajang mengambil hati petani. Penjual sepeda motor menyumbang hiburan organ tunggal berikut penyanyi. Produsen benih menyediakan makan siang. ”Persaingan dengan produk lain kan ketat, makanya mereka jadi lebih gencar promosi. Kami sih senang,” tambah Sukarman.
Dibayar tunai
Petani cabai di pesisir selatan Kulon Progo rata-rata petani sejahtera. Di atas lahan pasir, sepanjang tahun mereka menanam cabai merah keriting, melon, semangka, dan aneka jenis sayur secara bergantian. Selain untuk makan, hasil usaha itu mereka sisihkan untuk membangun rumah, membeli hewan ternak dan sepeda motor.
Suradal, petani di Desa Bugel, misalnya. Dari panen cabai di atas lahan 6.000 meter tahun 2009, ia membeli dua sepeda motor dan motor roda tiga untuk mengangkut pupuk dan hasil panen. Ia juga kini memiliki lima ekor sapi. Ia mengaku beruntung karena tahun lalu harga cabai tinggi.
Menurut dia, para petani seperti dirinya tidak perlu bingung saat hendak membeli sepeda motor. Pegawai dari dealer sepeda motorlah yang datang ke tempat-tempat lelang cabai sehingga transaksi bisa langsung diadakan di tempat lelang. ”Petani kalau beli sepeda motor langsung tunai. Kalau kredit, nanti malah repot,” ujarnya.
Tahun ini Suradal kembali menikmati harga tinggi. Hasil panen cabai digunakan untuk membiayai kedua anaknya masuk SMP dan SMA.
Berdasarkan perhitungan Kelompok Tani Gisik Pranaji, harga impas menutup biaya produksi tanam cabai merah keriting Rp 4.600 per kilogram. Dengan harga di atas Rp 20.000 per kilogram, petani pantas berpesta. Apalagi, dalam satu kali masa panen, tanaman bisa dipetik lebih dari 20 kali.
Sukarman yang menjadi perintis pertanian di atas lahan pasir mengakui cabai merah keriting telah mengubah wajah pesisir selatan Kulon Progo. Saat merintis pertanian di lahan pasir tahun 1985, petani Desa Bugel miskin. Terdesak kemiskinan itu, banyak warga pergi merantau ke daerah lain, jadi buruh bangunan. Tak sedikit pula yang jadi tenaga kerja di Malaysia.
Namun, Sukarman mampu membuktikan, lahan pasir bisa produktif untuk berbagai jenis sayuran. Ia juga menemukan sistem sumur renteng, yakni bak-bak penampungan berbentuk lingkaran yang menampung air resapan Sungai Progo di bawah lahan pasir.
Kisah keberhasilan itulah yang memanggil warga Bugel perantauan kembali ke desanya. Selain di Bugel, sekitar 6.000 keluarga di 10 desa pesisir Kulon Progo—mulai dari Pantai Trisik hingga Congot—kini bertani di lahan pasir.
Sebagian besar warga yang semula hidup di rumah reyot telah berhasil membangun rumah tembok yang dicat warna-warni dan berlantai keramik. Mereka juga membangun masjid megah.
Pasar lelang
Berkah dari lahan pasir mulai dirasakan sejak 1990-an. Namun, belakangan, berkah itu kian melimpah karena petani berhasil membuat mekanisme penjualan hasil panen sendiri dalam bentuk lelang. Pasar lelang dirintis tahun 2002. Menurut Sukarman, pasar lelang itu diadakan untuk meningkatkan daya tawar petani dan menekan ulah pedagang cabai yang membeli hasil panen petani dengan harga jauh di bawah harga pasar.
”Bahkan ada pedagang yang membawa hasil panen tanpa bayar dan tanpa kesepakatan harga dengan petani. Setelah berhasil dijual ke pedagang lain, mereka baru membayar petani. Jadi, petani tidak tahu harga riil hasil panennya,” ungkapnya.
Kini petani membawa hasil panennya ke pasar lelang. Harga cabai ditawarkan secara terbuka. Pedagang dengan penawaran tertinggi berhak mendapatkan cabai yang dilelang.
Di seluruh wilayah pesisir selatan Kulon Progo, kini ada 21 titik pasar lelang yang aktif bertransaksi setiap malam. Pasar lelang itu dikunjungi pedagang cabai lokal serta luar daerah, seperti dari Muntilan dan Purworejo, Jawa Tengah. Mereka itulah yang membawa cabai merah keriting dari Kulon Progo ke Jakarta dan ke luar Jawa.
Kadari, koordinator pasar lelang Bugel 2, menuturkan, sebulan terakhir harga lelang cabai selalu di atas Rp 20.000 per kilogram. Dari setiap kilogram cabai, petani menyumbang Rp 200 untuk kas, tenaga pasar lelang, serta membiayai kegiatan Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo. Paguyuban didanai untuk menghentikan rencana penambangan pasir besi yang mengancam keberlanjutan pertanian lahan pasir.
Dari lahan pasir, petani pesisir selatan Kulon Progo memberdayakan dirinya. Dari petani yang miskin dan tidak punya apa-apa, kini para produsen benih, pestisida, serta sepeda motor asal Jepang menempatkan mereka sebagai konsumen istimewa, seperti raja.
Prakarsa, pemberdayaan seperti ini seharusnya dihargai, tidak direcoki aneka pungutan. Lindungi mereka dari adanya pihak yang mencoba menyudutkan dengan menjatuhkan harga.
Panen raya cabai merah keriting di pesisir selatan Kulon Progo, DI Yogyakarta, tidak hanya diramaikan petani. Di lahan pasir besi yang ditumbuhi rimbunnya tanaman cabai siap panen itu aneka spanduk dan poster barang dagangan dipasang, ikut meramaikan suasana.
Selasa (27/7) siang itu, arena tasyakuran panen raya cabai di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, seperti berubah jadi semacam arena festival atau pameran aneka produk barang dagangan. Spanduk dan poster dipasang mencolok di sekeliling ladang cabai, tempat acara tasyakuran.
Tidak hanya menawarkan benih cabai, pestisida, fungisida, dan insektisida, spanduk-spanduk itu juga—yang lebih menohok mata—menawarkan sepeda motor. Panen raya cabai kali ini juga mengundang pedagang makanan dan minuman untuk ikut meraup rezeki.
Spanduk dan poster promosi itu datang karena kemakmuran petani lahan pasir besi. Sejak 1990-an, pertanian cabai merah keriting di atas lahan pasir membawa berkah bagi petani. Tanpa bantuan pemerintah, perekonomian menggeliat dan kesejahteraan keluarga meningkat.
Kini, saat harga cabai merah keriting melonjak hingga Rp 33.000 per kilogram di tingkat petani, mereka pun jadi ”pasar”. Produsen dan pedagang gencar menawarkan beragam produk kepada petani cabai yang tengah kebanjiran rezeki tersebut.
Menurut Sukarman, Ketua Kelompok Tani Grisik Pranaji di Desa Bugel, sejak beberapa tahun terakhir pedagang menawarkan barang dagangan mereka di ladang. ”Ada yang beli sepeda motor di ladang. Motor yang dibeli bahkan langsung diantar ke ladang,” katanya.
Selain tempat memasang spanduk dan poster promosi, acara panen raya itu juga jadi ajang mengambil hati petani. Penjual sepeda motor menyumbang hiburan organ tunggal berikut penyanyi. Produsen benih menyediakan makan siang. ”Persaingan dengan produk lain kan ketat, makanya mereka jadi lebih gencar promosi. Kami sih senang,” tambah Sukarman.
Dibayar tunai
Petani cabai di pesisir selatan Kulon Progo rata-rata petani sejahtera. Di atas lahan pasir, sepanjang tahun mereka menanam cabai merah keriting, melon, semangka, dan aneka jenis sayur secara bergantian. Selain untuk makan, hasil usaha itu mereka sisihkan untuk membangun rumah, membeli hewan ternak dan sepeda motor.
Suradal, petani di Desa Bugel, misalnya. Dari panen cabai di atas lahan 6.000 meter tahun 2009, ia membeli dua sepeda motor dan motor roda tiga untuk mengangkut pupuk dan hasil panen. Ia juga kini memiliki lima ekor sapi. Ia mengaku beruntung karena tahun lalu harga cabai tinggi.
Menurut dia, para petani seperti dirinya tidak perlu bingung saat hendak membeli sepeda motor. Pegawai dari dealer sepeda motorlah yang datang ke tempat-tempat lelang cabai sehingga transaksi bisa langsung diadakan di tempat lelang. ”Petani kalau beli sepeda motor langsung tunai. Kalau kredit, nanti malah repot,” ujarnya.
Tahun ini Suradal kembali menikmati harga tinggi. Hasil panen cabai digunakan untuk membiayai kedua anaknya masuk SMP dan SMA.
Berdasarkan perhitungan Kelompok Tani Gisik Pranaji, harga impas menutup biaya produksi tanam cabai merah keriting Rp 4.600 per kilogram. Dengan harga di atas Rp 20.000 per kilogram, petani pantas berpesta. Apalagi, dalam satu kali masa panen, tanaman bisa dipetik lebih dari 20 kali.
Sukarman yang menjadi perintis pertanian di atas lahan pasir mengakui cabai merah keriting telah mengubah wajah pesisir selatan Kulon Progo. Saat merintis pertanian di lahan pasir tahun 1985, petani Desa Bugel miskin. Terdesak kemiskinan itu, banyak warga pergi merantau ke daerah lain, jadi buruh bangunan. Tak sedikit pula yang jadi tenaga kerja di Malaysia.
Namun, Sukarman mampu membuktikan, lahan pasir bisa produktif untuk berbagai jenis sayuran. Ia juga menemukan sistem sumur renteng, yakni bak-bak penampungan berbentuk lingkaran yang menampung air resapan Sungai Progo di bawah lahan pasir.
Kisah keberhasilan itulah yang memanggil warga Bugel perantauan kembali ke desanya. Selain di Bugel, sekitar 6.000 keluarga di 10 desa pesisir Kulon Progo—mulai dari Pantai Trisik hingga Congot—kini bertani di lahan pasir.
Sebagian besar warga yang semula hidup di rumah reyot telah berhasil membangun rumah tembok yang dicat warna-warni dan berlantai keramik. Mereka juga membangun masjid megah.
Pasar lelang
Berkah dari lahan pasir mulai dirasakan sejak 1990-an. Namun, belakangan, berkah itu kian melimpah karena petani berhasil membuat mekanisme penjualan hasil panen sendiri dalam bentuk lelang. Pasar lelang dirintis tahun 2002. Menurut Sukarman, pasar lelang itu diadakan untuk meningkatkan daya tawar petani dan menekan ulah pedagang cabai yang membeli hasil panen petani dengan harga jauh di bawah harga pasar.
”Bahkan ada pedagang yang membawa hasil panen tanpa bayar dan tanpa kesepakatan harga dengan petani. Setelah berhasil dijual ke pedagang lain, mereka baru membayar petani. Jadi, petani tidak tahu harga riil hasil panennya,” ungkapnya.
Kini petani membawa hasil panennya ke pasar lelang. Harga cabai ditawarkan secara terbuka. Pedagang dengan penawaran tertinggi berhak mendapatkan cabai yang dilelang.
Di seluruh wilayah pesisir selatan Kulon Progo, kini ada 21 titik pasar lelang yang aktif bertransaksi setiap malam. Pasar lelang itu dikunjungi pedagang cabai lokal serta luar daerah, seperti dari Muntilan dan Purworejo, Jawa Tengah. Mereka itulah yang membawa cabai merah keriting dari Kulon Progo ke Jakarta dan ke luar Jawa.
Kadari, koordinator pasar lelang Bugel 2, menuturkan, sebulan terakhir harga lelang cabai selalu di atas Rp 20.000 per kilogram. Dari setiap kilogram cabai, petani menyumbang Rp 200 untuk kas, tenaga pasar lelang, serta membiayai kegiatan Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo. Paguyuban didanai untuk menghentikan rencana penambangan pasir besi yang mengancam keberlanjutan pertanian lahan pasir.
Dari lahan pasir, petani pesisir selatan Kulon Progo memberdayakan dirinya. Dari petani yang miskin dan tidak punya apa-apa, kini para produsen benih, pestisida, serta sepeda motor asal Jepang menempatkan mereka sebagai konsumen istimewa, seperti raja.
Prakarsa, pemberdayaan seperti ini seharusnya dihargai, tidak direcoki aneka pungutan. Lindungi mereka dari adanya pihak yang mencoba menyudutkan dengan menjatuhkan harga.
Pasar Lelang Selamatkan Petani
Kompas, 30 Juli 2010
Kekompakan Petani Cabai Memerdekakan
Petani cabai merah keriting di pesisir selatan Kulonprogo kini tidak lagi menanggung rugi akibat ulah pedagang. Lewat sistem pasar lelang, mereka mendapat harga panen yang layak sesuai harga pasar yang berlaku. Setelah memanen cabainya, Rabu (28/7), Suradal (39) segera mengangkat hasil panennya ke pasar lelang terdekat di Desa Bugel, Panjatan, Kulonprogo. Di sana onggokan cabai merah keriting petani lain sudah tiba lebih dulu. Hasil panen milik Suradal diletakan di bagian depan pasar lelang. Bobotnya lebih dari 3 kuintal.
Setelah mengantar hasil panennya, Suradal bergabung dengan petani lain. Pukul 19.00, mereka masih punya waktu satu jam sebelum hasil lelang diumumkan. Malam itu, ada 3 pedagang yang langsung menawarkan harganya . 4 pedagang lain menawar melalui sms. Lelang dilakukan tertutup sehingga masing-masing pedagang tidak saling tahu harga yang ditawarkan pedagang lain.
Pukul 20.00, petugas lelang menutup penawaran. Daftar harga dari 7 peserta lelang kemudian ditulis berurutan di papan tulis. Para petani dan peserta lelang memperhatikan daftar harga dengan seksama. Setelah semua daftar ditulis, terlihat harga penawaran tertinggi berasal dari pedagang bernama Wahyu. Ia menawar lewat pesan SMS Rp 23.691 per kilogram. Harga lelang malam itu dibawah harga malam sebelumnya yang mencapai Rp 25.000,00 per kg. Namun Suradal tak kecewa karena harga impas untuk cabai merah keriting degan harga Rp 4.600.00 per kg.
Usai pengumuman hasil lelang, para pedagnag yang datang bergeges menuju lokasi pasar lelang yang lain. Jika ingin mendapat untung, mereka harus mendapat barang. Oleh karena itu, mereka juga memantau proses lelang di lokasi yang lain.
Ketua kelompok tani Grisik Pranaji di Desa Bugel, Sukarman menuturkan, saat ini ada 21 titik pasar lelang di pesisir selatan Kulonpprogo. Pada musim panen, pasar-pasar itu aktif setiap malam.
Sepintas sistem pasar lelang ala petani itu sangat sederhana. Namun, melalui sistem yang sangat sederhana ini, petani cabai lepas dari kecurangan pedagang. Kuncinya ada pada kekompakan petani. Selama mereka kompak menjual hasil penennya di pasar lelang, pedagang tak bisa berkutik.
HINDARI PENIPUAN
Menurut Sukarman, dulu petani kerap ditipu pedagang karena tak memiliki informasi harga panen yang berlaku dipasar. Melihat kondisi semacam itu, para petani cabai merah keriting di pesisir selatan Kulonprogo membentuk pasar lelang mandiri. Bedanya jauh. Dari lahan, pedagnag bisa mengambil harga cabai dengan harga Rp 8.000,00 per kg. Di pasar lelang, harga bisa naik menjadi Rp 18.000,00 per kg, katanya.
Pasar lelang di pesisir selatan dirintis tahun 2002 di Desa Garongan. Tahun 2003, kelompok tani di desa Bugel ikut mendirikan pasar lelang yang diikuti degan pembentukan paasar-pasar lelang lainnya. Awlanya para pedagang sempat berkoordinasi untuk menjatuhkan harga lelang, tetapi praktek itu agak bisa dilakukan, ujarnya.
Saat harga cabai tinggi seperti sekarang, suasana di pasar-pasar lelang kian hidup. Koordinataor pasar lelang Bugel 2, Kadari menuturkan , selama lebih dari satu bulan terakhir, harga lelang cabai selalu diatas Rp 20.000 per kg. Petani kompak, petani untung.
Kekompakan Petani Cabai Memerdekakan
Petani cabai merah keriting di pesisir selatan Kulonprogo kini tidak lagi menanggung rugi akibat ulah pedagang. Lewat sistem pasar lelang, mereka mendapat harga panen yang layak sesuai harga pasar yang berlaku. Setelah memanen cabainya, Rabu (28/7), Suradal (39) segera mengangkat hasil panennya ke pasar lelang terdekat di Desa Bugel, Panjatan, Kulonprogo. Di sana onggokan cabai merah keriting petani lain sudah tiba lebih dulu. Hasil panen milik Suradal diletakan di bagian depan pasar lelang. Bobotnya lebih dari 3 kuintal.
Setelah mengantar hasil panennya, Suradal bergabung dengan petani lain. Pukul 19.00, mereka masih punya waktu satu jam sebelum hasil lelang diumumkan. Malam itu, ada 3 pedagang yang langsung menawarkan harganya . 4 pedagang lain menawar melalui sms. Lelang dilakukan tertutup sehingga masing-masing pedagang tidak saling tahu harga yang ditawarkan pedagang lain.
Pukul 20.00, petugas lelang menutup penawaran. Daftar harga dari 7 peserta lelang kemudian ditulis berurutan di papan tulis. Para petani dan peserta lelang memperhatikan daftar harga dengan seksama. Setelah semua daftar ditulis, terlihat harga penawaran tertinggi berasal dari pedagang bernama Wahyu. Ia menawar lewat pesan SMS Rp 23.691 per kilogram. Harga lelang malam itu dibawah harga malam sebelumnya yang mencapai Rp 25.000,00 per kg. Namun Suradal tak kecewa karena harga impas untuk cabai merah keriting degan harga Rp 4.600.00 per kg.
Usai pengumuman hasil lelang, para pedagnag yang datang bergeges menuju lokasi pasar lelang yang lain. Jika ingin mendapat untung, mereka harus mendapat barang. Oleh karena itu, mereka juga memantau proses lelang di lokasi yang lain.
Ketua kelompok tani Grisik Pranaji di Desa Bugel, Sukarman menuturkan, saat ini ada 21 titik pasar lelang di pesisir selatan Kulonpprogo. Pada musim panen, pasar-pasar itu aktif setiap malam.
Sepintas sistem pasar lelang ala petani itu sangat sederhana. Namun, melalui sistem yang sangat sederhana ini, petani cabai lepas dari kecurangan pedagang. Kuncinya ada pada kekompakan petani. Selama mereka kompak menjual hasil penennya di pasar lelang, pedagang tak bisa berkutik.
HINDARI PENIPUAN
Menurut Sukarman, dulu petani kerap ditipu pedagang karena tak memiliki informasi harga panen yang berlaku dipasar. Melihat kondisi semacam itu, para petani cabai merah keriting di pesisir selatan Kulonprogo membentuk pasar lelang mandiri. Bedanya jauh. Dari lahan, pedagnag bisa mengambil harga cabai dengan harga Rp 8.000,00 per kg. Di pasar lelang, harga bisa naik menjadi Rp 18.000,00 per kg, katanya.
Pasar lelang di pesisir selatan dirintis tahun 2002 di Desa Garongan. Tahun 2003, kelompok tani di desa Bugel ikut mendirikan pasar lelang yang diikuti degan pembentukan paasar-pasar lelang lainnya. Awlanya para pedagang sempat berkoordinasi untuk menjatuhkan harga lelang, tetapi praktek itu agak bisa dilakukan, ujarnya.
Saat harga cabai tinggi seperti sekarang, suasana di pasar-pasar lelang kian hidup. Koordinataor pasar lelang Bugel 2, Kadari menuturkan , selama lebih dari satu bulan terakhir, harga lelang cabai selalu diatas Rp 20.000 per kg. Petani kompak, petani untung.
Langganan:
Komentar (Atom)